Tentang Surga dan Neraka






Pernah tidak kamu merenung tentang kehidupan setelah mati nanti?

Aku pernah. Dan hal itu semakin intens setelah aku melihat sebuah kematian yang terjadi pada orang yang dekat denganku. Di hadapanku, aku lihat tubuh yang sebelumnya masih bernyawa dan hangat, berubah menjadi dingin dan kaku.

Aku shock, kaget, sedih. Aku menangis....

Lalu, saat aku memandikan sosok itu, aku belai wajahnya yang tersenyum. Aku yakin, beliau pergi meninggalkan dunia ini dengan ringan. Tanpa banyak persoalan, tanpa ada yang mendendam padanya.

Hatiku yakin, beliau yang jarang berkata-kata ini, adalah orang baik.

Aku yakin, beliau sudah tenang di sisi Alloh. Aku yakin, beliau masuk surga...


Lalu, beberapa waktu kemudian, aku bertemu dengan seorang teman.

Ia adalah seorang yang kerap melakukan hal-hal yang berkaitan dengan agama. Ia kerap menghadiri majelis ilmu. Ia banyak membaca kitab suci.

Tapi, suatu saat aku terkejut dengan penghakiman yang ia lakukan terhadap orang-orang yang tidak sama pemahaman dan pemikiran dengannya.

Ia bilang, mereka yang berbeda cara pandang dengan apa yang ia yakini, akan masuk neraka. NERAKA. Perlu ditegaskan lagi, ia yakin bahwa mereka yang berbeda dengannya itu adalah calon penghuni neraka.

Aku tercenung.

Sejenak aku pandangi wajah temanku itu. Aku amati dari ujung kaki sampai ujung kepala sosoknya.

Aku perhatikan semua yang ia lakukan.

Sampai akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa ia, temanku itu, masih manusia. Manusia biasa seperti aku. Manusia biasa yang kalau lapar, makan, dan kalau haus minum.

Manusia biasa yang juga tidur kalau ngantuk, dan bonyok kalau digebukin.

Jadi, atas kesimpulan bahwa dia masih manusia itu, aku jadi sedikit merinding dengan penghakimannnya terhadap orang lain.

Ia bilang orang lain akan masuk NERAKA. Apakah ia sedemikian yakin kalau dia sendiri akan masuk surga?

Apakah ia adalah pemilik surga dan neraka, sehingga merasa berhak memberi ijin orang untuk memasuki kedua tempat tersebut?

Apa ia sudah merasa suci dengan segala aktifitasnya selama ini? jadi otomatis sudah terdaftar sebagai ahli surga?

Ah,....

Aku teringat kembali pada kematian.

Sungguh tidak ada seorang pun yang mengetahui dengan keadaan apa ia akan meninggalkan dunia ini. Kecuali Nabi tertentu, tentu saja.

Apakah akan Su'ul Khotimah, atau Khusnuul Khotimah.

Aku yakin dia, temanku itu, tidak tahu. Aku juga tak tahu. Kamu juga tak tahu.

Jadi, apa hak manusia biasa seperti kita ini menghakimi seseorang sebagai penghuni surga atau neraka?

Kenapa tidak berusaha memperbaiki diri tanpa banyak omong yang tak berguna?

Hmmm... bahkan seorang pelacur yang berhati dermawan, pun bisa jadi penghuni surga.

Allah Maha Rahman dan Rahim.


*Mengenang dia, yang sudah tenang di sana

1 komentar:

  1. jadi terimangat seseorang yang mudah sekali mengKAFIRkan orang lain yang tidak semajhab dengan dia...
    subhanallah...
    gamis itu...
    niqab itu...
    ternyata tidak mewakili siapa yang tersembunyi dibelakangnya...
    sambil berbisik dalam hati...
    *ternyata pemahaman agamamu hanya di kulit ari, belum menyentuh hatimu...*

    BalasHapus

komentar yang tidak semestinya akan dipertanggungjawabkan masing-masing pada Tuhan